<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/103">
<title>National Con (PRC)</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/103</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1514"/>
<rdf:li rdf:resource="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1241"/>
<rdf:li rdf:resource="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1240"/>
<rdf:li rdf:resource="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1239"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-11-06T13:51:09Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1514">
<title>Perkembangan Teori Psikologi</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1514</link>
<description>Perkembangan Teori Psikologi
Durrotunnisa
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mendudukkan teori psikologi yang sudah, sedang, dan&#13;
akan berkembang dalam perspektif filsafat ilmu. Kerlinger (dalam Schreiber &amp; Asner, 2010: 22)&#13;
menyatakan bahwa teori merupakan serangkaian hubungan beberapa variabel, definisi, dan&#13;
proposisi yang tersaji sistematis, memandang fenomena sebagai suatu hubungan spesial antar&#13;
variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alam. Metode yang digunakan dalam penulisan&#13;
adalah literatur research. Hasil: psikologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan mengalami&#13;
perkembangan yang sama. Konsep ketidaksadaran yang diagungkan dalam praktik psikoanalisa,&#13;
berkurang pamornya setelah behavioristik mampu menjawab bahwa perilaku manusia mampu&#13;
diamati dan diukur. Behavioristik juga mengecam adanya ketidaksadaran sebagai hal utama yang&#13;
berpengaruh pada diri manusia, dan lebih mengedepankan pada perilaku yang nampak untuk&#13;
dikaji. Seiring bergulirnya waktu, behavioristik juga dikecam secara keras oleh aliran yang&#13;
menyuarakan psikologi kognitif. Psikologi kognitif sendiri lebih mengedepankan aktifitas mental&#13;
sebagai penentu keberhasilan dalam diri individu. Ia menyatakan bahwa bukan sekedar perilaku&#13;
yang menjadi obyek kajian psikologi, tapi aktivitas mental manusia juga perlu dikaji secara&#13;
mendalam. Saat ini, psikologi yang lagi marak dikaji adalah psikologi positif yang&#13;
mengedepankan pandangan menjadikan hidup manusia lebih baik dan memelihara kecerdasan atau&#13;
kesanggupan, khususnya membangun dan mendukung well-being. Kesimpulan: pergeseran teori&#13;
adalah suatu keniscayaan yang bersifat otomatis, karena pada hakekaktnya manusia akan selalu&#13;
mencari solusi terbaik bagi setiap persoalan yang dihadapinya
</description>
<dc:date>2015-11-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1241">
<title>Pendidikan Inklusif Untuk Mengakomodasi Keragaman Peserta Didik Dalam Rangka Pembangunan Manusia Indonesia</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1241</link>
<description>Pendidikan Inklusif Untuk Mengakomodasi Keragaman Peserta Didik Dalam Rangka Pembangunan Manusia Indonesia
Subasno, Yohanes
Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam pembangunan manusia Indonesia. Salah satu&#13;
model pendidikan yang mengakomodasi keragaman peserta didik termasuk siswa berkebutuhan&#13;
khusus adalah pendidikan inklusif. Kelas inklusif memungkinkan siswa reguler dan berkebutuhan&#13;
khusus saling belajar dan menghargai perbedaan. Lebih penting, guru memberi perhatian pada&#13;
kebutuhan setiap peserta didik. Pendidikan inklusif bermaksud berkontribusi pada pembangunan&#13;
manusia Indonesia seutuhnya. Fakta di lapangan masih jauh dari ideal. Tujuan kajian ini adalah&#13;
memotret pelaksanaan pendidikan inklusif sekaligus memberikan tips-tips guna mendukung&#13;
implementasi yang lebih baik, khususnya pengelolaan kelas inklusif, dengan siswa tunarunguwicara. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan pengamatan lapangan. Siswa dengan&#13;
ketidakmampuan mendengar, seringkali tidak belajar seperti siswa lainnya. Mereka sebagai&#13;
“pupuk bawang”. Situasi ini tidak selaras dengan konsep pembangunan manusia Indonesia&#13;
seutuhnya yang menjangkau semua anak ‘tanpa terkecuali’. Penulis memberikan tips-tips untuk&#13;
keberhasilan kelas inklusi yang menerima siswa tunarungu-wicara: 1) Sekolah melakukan&#13;
sosialisasi konsep pendidikan inklusi bagi stakeholder terkait, dibarengi penyediaan infrastruktur&#13;
yang memadahi. 2) Guru dan tenaga kependidikan dibekali pengetahuan dan ketrampilan untuk&#13;
mendidik siswa tunarungu-wicara, seperti penguasaan bahasa isyarat. 3) Bekerja sama dengan&#13;
orangtua untuk bersikap inklusif. 4) Calon siswa berkemampuan beda dipersiapkan secara&#13;
memadai. 5) Guru Pendamping Khusus. 6) Pengelolaan kelas inklusif yang memperhatikan setiap&#13;
kebutuhan siswa
</description>
<dc:date>2018-06-30T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1240">
<title>Hubungan Subjective Well Being dan Psychological Well Being Mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Nusa Cendana</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1240</link>
<description>Hubungan Subjective Well Being dan Psychological Well Being Mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Nusa Cendana
Damayanti, Yeni; Benu, Juliana Marlin Y; Pello, Shela C.
Kehidupan mahasiswa sering kali menimbulkan stress yang berkelanjutan sehingga rentan mengalami&#13;
masalah kesehatan mental. Well being merupakan salah satu indikator utama dalam mengukur&#13;
kesehatan mental individu. Subjective Well-Being dan Psychological Well-Being merupakan dua&#13;
kajian yang paling banyak digunakan untuk mengukur kesejahteraan. Penelitian ini bertujuan untuk&#13;
melihat hubungan antara Subjective Well-Being dan Psychological Well-Being pada mahasiswa.&#13;
Subjek dalam penelitian ini berjumlah 194 orang mahasiswa pada Fakultas Kesehatan Masyarakat&#13;
Universitas Nusa Cendana. Subjective Well-Being diukur dengan mengembangkan skala berdasarkan&#13;
teori Diener, Suh dan Oishi (1997), dan Psychological Well-Being diukur dengan skala yang&#13;
dikembangkan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Ryff (1995). Hipotesis penelitian diuji&#13;
dengan menggunakan uji korelasi. Hasil analisis menunjukan adanya hubungan positif yang&#13;
signifikan antara Subjective Well-Being dan Psychological Well-Being pada mahasiswa Psikologi&#13;
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Nusa Cendana. Analisis lanjutan dilakukan untuk&#13;
melihat keterkaitan antar komponen antara kedua variabel
</description>
<dc:date>2018-06-30T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1239">
<title>Iklim Kelas : Teori dan Implikasinya dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/1239</link>
<description>Iklim Kelas : Teori dan Implikasinya dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar
Widodo, Wahyu
Proses pembelajaran pada praksis pendidikan formal tidak dapat dilepaskan dari konteks ruang&#13;
kelas. Dalam teori pembelajaran kognisi sosial ditekankan bahwa antara individu, lingkungan, dan&#13;
perilaku terjadi hubungan timbal balik. Siswa dipengaruhi oleh lingkungan pembelajaran sehingga&#13;
memunculkan perilaku siswa, begitu juga situasi lingkungan pembelajaran dipengaruhi oleh persepsi&#13;
dan perilaku siswa. Pembelajaran di ruang kelas dengan ukuran ruang yang terbatas harus mampu&#13;
memberikan pengalaman belajar yang optimal kepada siswa. Di sisi lain penataan ruang kelas&#13;
seringkali diabaikan oleh guru. Penataan ruang kelas yang baik akan mampu menghadirkan iklim&#13;
kelas yang positif. Iklim kelas adalah situasi kelas yang menggambarkan proses kegiatan belajarmengajar yang dapat dilihat dari (1) penataan kurikulum pembelajaran meliputi pengorganisasian&#13;
materi pelajaran dan penggunaan strategi pembelajaran; (2) penataan lingkungan fisik&#13;
pembelajaran yang berkenaan dengan penataan ruang kelas meliputi pencahayaan ruang kelas,&#13;
kestabilan suhu ruang kelas, penataan tempat duduk, penataan asesoris kelas, penggunaan musik dan&#13;
kebisingan kelas ; dan (3) penataan lingkungan sosial pembelajaran yang meliputi penerapan tata&#13;
tertib kelas, interaksi siswa-siswa, interaksi siswa-guru, dan interaksi siswa-orang tua. Selanjutya,&#13;
teori iklim kelas dan implikasinya terhadap proses pembelajaran didiskusikan dalam artikel ini
</description>
<dc:date>2018-06-30T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
