<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2426">
<title>Vol. 8 No. 1 Juni 2021</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2426</link>
<description/>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2438"/>
<rdf:li rdf:resource="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2437"/>
<rdf:li rdf:resource="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2436"/>
<rdf:li rdf:resource="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2435"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-11-06T14:49:23Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2438">
<title>Pertanggungjawaban pidana pelaku kasus pencemaran lingkungan hidup pt albasi priangan lestari</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2438</link>
<description>Pertanggungjawaban pidana pelaku kasus pencemaran lingkungan hidup pt albasi priangan lestari
Cahayadi, Willianto Gunawan; Mandiana, Sari; Achmad, Andyna Susiawati
Salah-satu amanat yang berikan oleh Undang-Undang Dasar Negara RepublikIndonesia UUD 1945 adalah hak&#13;
atas lingkungan yang baik dan sehat. Lingkunganhidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap warga Negara&#13;
Indonesiasebagaimana diamanatkan dalam Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi:“Setiap orang berhak hidup&#13;
sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, danmendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak&#13;
memperolehpelayanan kesehatan. Lingkungan hidup yang baik dan sehat tentunya menunjangproduktivitas hidup dan tingkat&#13;
kesehatan masyarakat. Sebaliknya,gangguan/penurunan kualitas lingkungan hidup sangat berpengaruh danmemberikan&#13;
dampak negatif terhadap kualitas hidup masyarakat. Tesis inimembahas kasus terkait dengan tidak pidana lingkungan hidup&#13;
yang dilakukan olehkorporasi dalam hal ini PT. APL, yang mana dalam Surat tuntutan/dakwaanmendudukan Chrisdianto&#13;
Rahardjo sebagai Terdawa I dan PT. APL sebagaiTerdakwa II. Adapun pasal yang didakwankan kepada Terdakwa I adalah&#13;
Pasal 100 ayat (1) dan ayat (2) Jo Pasal 116 ayat (1) huruf b UU 32/2009 dan terhadapTerdakwa II (subjek hukum badan&#13;
hukum) didakwa dengan Pasal 100 ayat (1) dan ayat (2) Jo. Pasal 116 ayat (1) huruf a UU 32/2009. Putusan&#13;
Nomor155/Pid.Sus/2013/PN.Cms diperkuat oleh putusan Dalam Putusan banding nomor344/Pid.Sus/2013/PT.Bdg&#13;
menjatuhkan pemidanaan kepada para terdakwasehingga kasus ini membuka cela bagi terjadinya asas nebis en idem&#13;
danpertanggungjawan korporasi / One of the mandates given by the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia is the right to a good and healthy&#13;
environment. A good and healthy environment is the basic right of every Indonesian citizen as mandated in Article 28 H&#13;
paragraph (1) of the 1945 Constitution which reads: "Every person has the right to live in peace and prosperity, to live, and&#13;
obtain a good and healthy living environment and entitled to receive health services. A good and healthy environment&#13;
certainly supports life productivity and the level of public health. Conversely, disruption / decline in the quality of the&#13;
environment will be very influential and have a negative impact on people's quality of life. This thesis discusses cases related&#13;
to nonenvironmental crimes committed by corporations in this case PT. APL, which in the letter of demand / indictment&#13;
positions Chrisdianto Rahardjo as Laughing I and PT. APL as Defendant II. The article that was charged to Defendant I was&#13;
Article 100 paragraph (1) and paragraph (2) Jo. Article 116 paragraph (1) letter b of Law 32/2009 and Against Defendant II&#13;
(legal subject of a legal entity) are charged with. Article 100 paragraph (1) and paragraph (2) Jo. Article 116 paragraph (1)&#13;
letter a of law 32/2009. Decision Number 155 / Pid.Sus / 2013 / PN.Cms is strengthened by the decision in Decision appeal&#13;
number 344 / Pid.Sus / 2013 / PT.Bdg impose convictions on the defendants so that this case opens a reproach for the&#13;
occurrence of nebis en idem and corporate responsibility
</description>
<dc:date>2021-05-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2437">
<title>Perlindungan hukum terhadap penyalahgunaan one time password sebagai sarana transaksi digital perbankan</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2437</link>
<description>Perlindungan hukum terhadap penyalahgunaan one time password sebagai sarana transaksi digital perbankan
Gondowidjaja, Michael; Hasan, Tandyo; Achmad, Andyna Susiawati
Penelitian ini membahas tentang perlindungan hukum terhadap penyalahgunaan one time password sebagai sarana&#13;
transaksi perbankan digital. Pihak Perbankan seharusnya menjaga kerahasiaan data nasabah dan menjamin keamanan dalam&#13;
proses transaksi digital. Peretasan kode OTP dapat dikategorikan sebagai kelalaian bank serta merupakan tindakan tidak&#13;
bertanggung jawab yang menimbulkan kerugian materiil terhadap nasabah. Bank bertanggung jawab atas tindakan&#13;
penyalahgunaan one time password yang terjadi dikarenakan data nasabah yang seharusnya dijaga dengan ketat oleh pihak&#13;
perbankan justru terbuka atau diketahui oleh pihak lain. Bank juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mengawasi&#13;
kinerja operasional perbankan, maka bank tetap bertanggung jawab atas kerugian yang telah diakibatkan tersebut, baik secara&#13;
materiil maupun immateriil / This study discusses legal protection against misuse of one time passwords as a means of digital banking&#13;
transactions. Banking parties should maintain the confidentiality of customer data and ensure security in the digital&#13;
transaction process. Hacking the OTP code can be categorized as bank negligence and is an irresponsible act that causes&#13;
material loss to customers. The bank is responsible for the misuse of the one time password that occurs because customer&#13;
data that should be closely guarded by the banking sector is open or known to other parties. The bank also has the obligation&#13;
and responsibility to oversee the operational performance of the banking system, so the bank remains responsible for the&#13;
losses that have been caused, both materially and immaterial
</description>
<dc:date>2021-05-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2436">
<title>Pendaftaran indikasi geografis atas kayu bajakah dikalimantan tengah sebagai penyembuh penyakit kanker</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2436</link>
<description>Pendaftaran indikasi geografis atas kayu bajakah dikalimantan tengah sebagai penyembuh penyakit kanker
Sidarta, Roy Sutrisno; Mandiana, Sari; Setyabudhi, Jusup Jacobus
Indonesia adalah negara yang kaya dan melimpah sumber daya alanmnya sehingga menghasilkan hasil budi daya&#13;
nabati dan hayati yang mencirikan geografi di mana potensi itu berada. Suatu perlindungan hukum, oleh karena itu&#13;
diperlukan, yaitu pelindungan hukum terhadap Kekayaan Intelektual. Kasus yang dianalisis dalam tesis ini adalah kasus&#13;
Kayu Bajakah dalam kaitannya dengan perlindungan Indikasi Geografis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan&#13;
memahami Hak Indikasi Geografis Kayu Bajakah, serta juga untuk mengetahui dan memahami siapa pemegang hak atas&#13;
Indikasi Geografis Kayu Bajakah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deduktif, yaitu dari hal-hal yang bersifat&#13;
umum, dalam hal ini peraturan perundang-undangan, doktrin serta teori-teori dalam literatur yang kemudian diterapkan pada&#13;
rumusan masalah, yang merupakan hal yang khusus, untuk menjawab isu tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
Kayu Bajakah memenuhi unsur-unsur atau persyaratan sebagai suatu Indikasi Geografis. Pemohon Indikasi Geografis yang&#13;
kemudian menjadi pemegang hak atas Indikasi Geografis tersebut, merupakan masyarakat Palangkaraya, atau Pemerintah&#13;
Kota Palangkaraya atau Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah / Indonesia is a country that is rich and abundant in natural resources so as to produce the natural and biological&#13;
results that characterize the geographical location where the potential lies that needs legal protection which is Intellectual&#13;
Property legal protection. The case analyzed in this thesis is the Bajakah Wood case related to the protection of&#13;
Geographical Indications.This study aims to determine and understand the Geographical Indications Rights related to&#13;
Bajakah Wood and also to know and understand the right holders for the Geographical Indications of Bajakah Wood. The&#13;
research method used is the Deductive Method, which is of matters that are general in this case legislation, doctrine and&#13;
theories in the literature which are then applied according to the formulation of the problem to answer the issue.The results&#13;
of the study showed that the Bajakah Wood was fulfilled by the elements or requirements as a Geographical Indication, and&#13;
the applicants of Geographical Indications who later became holders of the Geographical Indications were the&#13;
Palangkaraya people, or the Palangkaraya City Government or Central Kalimantan Provincial Government
</description>
<dc:date>2021-04-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2435">
<title>Legal protection and consequences on company status in relation to change of shareholders’ citizenship</title>
<link>http://dspace-surabaya.uph.edu:8080/xmlui/handle/123456789/2435</link>
<description>Legal protection and consequences on company status in relation to change of shareholders’ citizenship
Tse, Shirley Nga Yan; Hasan, Tandyo; Achmad, Andyna Susiawati
On one hand, Investment Law No 25 of 2007 identifies a company as foreign-owned if any of its shares are owned&#13;
by foreign individuals or entities. Indonesian shareholders who forfeit their citizenship cause alteration in their company’s&#13;
status from domestic-owned (Penanaman Modal Dalam Negeri) to foreign-owned (Penamaan Modal Asing). On the other&#13;
hand, Company Law No 40 of 2007 ensures that the requirement of Articles of Association and other legislations apply to&#13;
both domestic-owned and foreign-owned companies domiciling within the territory of the Republic of Indonesia. Articles of&#13;
Association governs the power of a company and the rights of shareholders, and by law resolution (quorum) at the meeting of&#13;
shareholders are required to make any amendments to the Articles of Association. Accordingly, changing company status to&#13;
“foreign-owned” as a result of shareholders relinquishing citizenship, without passing a quorum resolution harms the rights&#13;
of shareholders and violates the Company Law. Nevertheless, keeping the company as domestic-owned could also violate the&#13;
Investment Law because the share therein is owned by foreigners. This article depicts the dilemma arising from the impact of&#13;
citizenship change in relation to company's status, process of company’s status change, and the consequences of company’s&#13;
status violations / Undang-Undang Penanaman Modal No 25 tahun 2007 mengidentifikasi perusahaan sebagai milik asing jika salah&#13;
satu sahamnya dimiliki oleh orang atau badan asing. Pemegang saham Indonesia yang kehilangan kewarganegaraannya&#13;
menyebabkan perubahan status perusahaannya dari milik dalam negeri menjadi milik asing. Di sisi lain, Undang-Undang&#13;
Perseroan No. 40 tahun 2007 memastikan bahwa persyaratan Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan lainnya&#13;
berlaku bagi perusahaan milik dalam negeri maupun milik asing yang berkedudukan di wilayah negara Republik Indonesia.&#13;
Anggaran Dasar mengatur kekuasaan suatu perusahaan dan hak-hak pemegang saham, dan berdasarkan keputusan hukum&#13;
(kuorum) pada rapat pemegang saham diwajibkan untuk melakukan perubahan Anggaran Dasar. Dengan demikian,&#13;
perubahan status perusahaan menjadi "milik asing" sebagai akibat dari pelepasan kewarganegaraan pemegang saham, tanpa&#13;
melalui resolusi kuorum merugikan hak pemegang saham dan melanggar Undang-Undang Perusahaan. Meski demikian,&#13;
menjadikan perseroan sebagai milik dalam negeri juga bisa melanggar UU Penanaman Modal karena saham di dalamnya&#13;
dimiliki oleh pihak asing. Artikel ini menggambarkan dilema yang timbul dari dampak perubahan kewarganegaraan terkait&#13;
dengan status perusahaan, proses perubahan status perusahaan, dan konsekuensi pelanggaran status perusahaan
</description>
<dc:date>2021-05-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
